Kamis, 13 April 2017

About My Bestfriends




Bagiku, sahabat itu bukan hanya sekadar teman dekat
Tetapi juga saudara.

***

Sering kita aku ngelihat orang-orang di dunia maya bilang kalo mereka punya sahabat yang baik banget *ya iya sih, namanya juga sahabat*. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku lihat lagi, ternyata mereka musuhan, sampai ngeluarin sumpah serapah yang aku pikir seharusnya engga sampai segitu juga sih ya, apalagi dunia maya tuh. Pas aku stalk (btw, aku tukang-stalking-orang-kalo-lagi-penasaran, jadi jangan bikin aku penasaran karena aku bisa aja ngestalk kalian kalian sampai pada zaman dahulu kala *paandeh*), ternyata eh ternyata guys, musuhannya mereka cuman gara-gara rebutan kekasih, yaelaaah.

Entah kalo liat situasi yang kaya begini mau ketawa atau miris. Gini ya, udah sahabatan, eh retak gara-gara rebutan pacar. Ya ampun, ya kali, itu juga belum tentu jadi jodohmu kelak kan? :( Ya memang sih, kalau perasaan itu nggak bisa kita kendalikan, tapi masalah toh bisa diselesaikan sama-sama. Dan akhirnya, mereka yang tadinya sahabatan, akrab banget, jalan ke sana ke sini bareng terus, curhat-curhatan, chattingan tanpa henti, sampai mereka dikenal sama anak-anak di sekolah karena itu semua, akhirnya bubar. Pisah. Musuhan. Seolah-olah mereka asing satu sama lain. Bahkan menganggap mereka enggak pernah bertemu.

***

Jadi, itu tadi cuman intro doang, guys. Sebenernya motivasi aku buat nulis ini mau nyeritain gimana suka dukanya aku sahabat-sahabat aku. Read: sodara deh, wkwk.

Oke, jadi singkat cerita, aku punya 2 orang yang bisa dibilang mereka udah masuk ke dalam cerita hidup aku. Mereka banyak membawa dampak yang cukup besar di kehidupan aku, asek. Tapi ini beneran kok. Contohnya, dulu itu aku kalau lagi enggak semangat sekolah, yang aku inget ya mereka. Aku bilang sama diri aku sendiri, aku mau ke sekolah, mainan sama mereka. Tapi itu dulu, waktu kita semua masih pada SD, lebih tepatnya waktu kelas 6 SD. Kebetulan, kita baru sekelas bertiga pada waktu itu.

Ngomong-ngomong tentang SD, kita pertama kali ketemu di tempat itu. Kita ketemu pertama kali waktu masih pada unyu-unyu, kelas 2 SD. Di tempat yang enggak elit banget. Di samping kelas, yang parahnya waktu itu di dekat kita ada gerobak yang isinya kresek-kresek sampah. Bukan tempat yang bagus kan? Tapi bisa membawa alur yang indah.

Jadi, kita ketemu di sana karena waktu itu si Dita (aku kenal sama dia waktu TK, dan kita sekelas, kebetulan dia jadi tetanggaku juga, dan kita ternyata satu SD) lagi nangis gara-gara dia enggak mau ikut lomba yang padahal dia sendiri yang ngedaftarin dirinya ke guru olahraga. Terus aku nemenin dia di sana. Nah, abis itu si Intan (anak kelas lain, sebenernya aku sama Dita juga beda kelas. Jadi, kita semua beda kelas) datengin kita, dan nanyain kenapa. Sampai akhirnya kita terlibat dalam pembicaraan yang akhirnya bisa bikin Dita berhenti nangis.

SKIP

Sampai waktu kita kelas 6, kita bertiga dipertemukan kembali. Namanya masih zaman SD, jadi dulu kita ya nggak akrab-akrab banget awalnya, biasalah, masih bergeng-geng gitu, sedih deh kalo nginget:( Sampai akhirnya, suatu masalah yang datangin aku, perlahan bikin keadaan itu berubah. Aku mulai dekat dengan Intan dan enggak lama setelah itu kita bertiga akhirnya barengan. Masih ada sebenernya cerita yang lebih lengkap, tapi aku rasa enggak etis kalo nyeritain gimana lengkapnya hehe, so aku enggak bakalan nulis.

Waktu demi waktu kita jalani, dan engga kerasa kita udah segini lamanya. Kita ketemu di tahun 2008 dan sekarang 2017. Kita udah sama-sama selama 9 tahun. Walaupun kita baru dekat pas kelas 6, tapi kita sepakat kita bakalan ngehitung mulai dari kita ketemu. Ya soalnya kita mikir, ini udah jalan yang di kasih sama Allah Swt. untuk kita bertiga. Dan aku pikir, kita bertiga bisa mematahkan anggapan orang-orang yang bilang kalau orang yang sahabatan waktu di sekolahan, terus udah pada mau lulus dan janji barreng-bareng bakalan kontak-kontakkan, pokoknya keep in touch, itu omong kosong. Yee, buktinya aku sama 2 orang yang aku sebut namanya di atas bisa kok, mungkin yang bilang itu bullshit belum nemuin aja kali ya orang yang bener-bener tepat.

Perjalanan sampai kita bisa sekarang pun enggak semudah yang mungkin orang-orang bayangkan, yang ngeliat kita bertiga bareng mulu, jalan kemana-mana barengan, nginep bareng, dll yang dilakuinnya barengan. Enggak, kita enggak pernah rebutan cowok kaya intro di atas kok. Ada masalah lain, yang bener-bener bikin persahabatan kita teruji, dan.. sempet goyang.

Sumpah ini aku ‘netes’

Oke, aku enggak kuat buat nyeritain masalah itu. Yang jelas, kita semua bisa pecahin itu sama-sama. Memang butuh waktu untuk diri kita masing-masing berpikir, introspeksi diri, tentang apa yang salah, apa yang kurang, atau apa yang bikin salah satu atau beberapa merasa enggak nyaman sama kita, bener-bener butuh waktu. Bukan cuman sejam dua jam, berhari-hari, atau pun seminggu dua minggu. Ini berbulan-bulan. Kita mendam perasaan, emosi, dan pemikiran kita untuk jangka waktu yang cukup lama. Bukan, itu lama banget menurut aku. Belum tentu semua orang bisa ngelakuinnya. Sampai akhirnya, Allah ngasih jalan buat semua masalah yang kita hadapi. Dan disitu semuanya terungkap kalo itu cuma missunderstood. And firstly I said hamdalah.

Jadi, aku cuman mau bilang sih, kalau kalian punya sahabat dan lagi dalam masalah, pikirin baik-baik, egonya kesampingkan aja. Apalagi kalau kalian merasa sangat nyaman sama mereka, coba buat nyelesain semuanya sama-sama, pasti bisa, Insya Allah. Kalau bener-bener sahabatan, kalian pasti bisa saling mengondisikan situasinya, bukannya malah menghujat sana sini dan malah pengen balas dendam. Btw, ini namanya bukan sahabat sih, wkwk.

Yaudah deh, ini udah panjang banget. Sebenernya ini enggak penting sih. Aku cuman mau curhat doang disini. Kalau ada yang baca apalagi sampai habis, yowes makaseh.

Akhir kata, semoga temen-temen yang baca artikel (baca: curhatan) ini bisa nemuin sahabat yang bener-bener sahabat, dan bisa terus sama-sama di dunia dan akhirat kelak. Dan semoga sahabatannya membawa berkah. Aamiin Yaa Rabbal’alamiin. Omong-omong, aku jadi keinget kedua orang tua aku pernah ngomong dan aku enggak sengaja denger gini ( bukan nguping loh ya! :p), "Yaa, semoga aja mereka bertiga sahabatan kaya gitu terus." Look! Mereka aja dukung, hamdalaah. May Allah bless us and you too!

Regards,
Suci Noorjannah Novianti

Minggu, 26 Maret 2017

Sabtu, 04 Februari 2017

Senin, 07 November 2016

Minggu, 06 November 2016

High School Days

こんにちはみんな!
Selamat siang, kawan! 

Akhirnya aku berkesempatan lagi untuk ngepost di blog ini, yuhuu^^ Dan temanya kali ini adalah High School Days. Jadi, aku bakalan ceritain kehidupan semasa SMA *azek*. Katanya sih, masa-masa SMA adalah masa paling indah diantara masa-masa sekolah yang lainnya. Bener gak sih?

Jadi, ceritanya dimulai dari MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan. MPLS-nya dimulai dari tanggal 18 sampai 20 Juli 2016, selama 3 hari, dan kami diperkenankan memakai baju putih abu-abu, yeay>..< MPLS diawali dengan upacara dan sambutan oleh Kepala SMA Negeri 10 Samarinda, yaitu Pak Armin, S. Pd., M. Pd. Setelah upacara usai, kami diarahkan menuju ke auditorium. Di depan auditorium kami berbaris untuk mengambil sehelai pita yang nantinya akan menentukan gugus kami. Jadi, dikarenakan banyaknya peserta didik baru, maka kami dibagi-bagi dalam beberapa gugus untuk mempermudah pengarahan, kemungkinan sih begitu wk. Waktu itu, aku dapat pita berwarna pink yang membawaku ke gugus Milky Way. Keren, 'kan, namanya? Haha.. Nama-nama gugusnya memang menggunakan nama-nama galaksi. Ada Milky Way, Pinwheel, Cartwheel, Hoags, Bode, Andromeda, dan masih banyak lagi. Dalam 1 gugus terdapat kira-kita 12-14 orang. Dan 1 gugus punya kakak gugus dari anggota OSIS sebagai pengarah. Oya, gugus laki-laki dan perempuan juga dibedakan, lho. Dan MPLS-nya pun punya tema, yaitu Learn From The Ants.

Setelah itu, kami berkumpul sesuai gugus. Kami berkenalan satu sama lain. Setalah itu, kami diajak untuk berkeliling sekolah. Ya, namanya juga pengenalan lingkungan sekolah, hehe. Sambil berkeliling sekolah, kami juga membersihkan sampah-sampah yang kami temui di sepanjang jalan, tentunya supaya kita lebih mencintai lingkungan kita sih. Kalau bukan kita siapa lagi, kan?

Selain itu, kakak gugusnya juga memberi sedikit demi sedikit informasi dan tata tertib yang tentunya sangat berguna bagi murid baru seperti kami. Seperti, kami harus memberi salam di mana pun kami bertemu dengan kakak kelas, guru, CS, bahkan Pak Satpam sekalipun, yang intinya kita harus bersikap sopan santun kepada yang lebih tua dari kita. FYI, budaya 4S (senyum, salam, sopan, dan santun) di Smaridasa sangat kental sekali. Maka dari itu, sebagai warga Smaridasa kita harus tetap menjaganya agar budaya ini tetap lestari hingga nanti. Oya, jadi cara salamnya itu, jumlah orang yang di salami = jumlah salam yang diucapkan. Jadi, misalnya ada 3 kakak kelas atau guru dan lainnya, kita harus mengucapkan 3 salam sekaligus. Dan harus menggunakan title. Jadinya, "Assalamu'alaikum, Pak", "Assalamu'alaikum, Bu", "Assalamu'alaikum, Kak". Begitu. Lalu ada satu hal penting lainnya, tidak boleh memberi salam kepada kakak kelas lawan jenis.

Mungkin, awalnya terasa berat untuk memberi salam seperti itu. Akan tetapi, hari demi hari kita mulai terbiasa untuk melakukannya. Bahkan, kalau tidak melakukannya seperti ada hal yang kurang. Ya, setidaknya itu yang aku rasakan kalau kebiasaanku terlewatkan. 4S ini aku rasa cukup ampuh untuk bisa kenal dengan kakak kelas, bahkan akrab, mungkin.

Setelah berkeliling sekolah, kita kembali lagi ke auditorium untuk mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru-guru. Terkadang juga kakak kelas yang menyampaikan materi, entah itu dari klub bahasa ataupun mereka yang sudah memiliki banyak pengetahuan dan mendapat banyak prestasi untuk menjadi motivasi bagi adik-adiknya.

Tepat tengah hari, waktunya ishoma (istirahat, sholat, makan). Kami makan bersama di auditorium. Smaridasa juga mengutamakan korsa (komandan satu rasa), lho! Jadi, memulai makan pun ada tata tertibnya gitu deh. Usai makan siang, kami berbondong-bondong menuju ke masjid untuk sholat dzuhur berjamaah. Setelah itu kembali lagi ke auditorium untuk mendengarkan materi-materi. Kegiatan pun berakhir sekitar jam 2 siang.

Esoknya, kegiatan sama seperti hari sebelumnya. Mendengarkan berbagai macam materi. Supaya tidak bosan, terkadang juga diselingi dengan games. Skip, langsung ke hari ketiga. Ini merupakan puncak acara MPLS. Di hari ketiga, kita melakukan voting untuk pemilihan ketua angkatan 20 Smaridasa. Sebelum voting dilakukan, tentunya para kandidat ketua angkatan memberikan speech singkat untuk meyakinkan para audience agar mendukung. Lalu ada juga sesi tanya jawab yang dilontarkan oleh ketua angkatan dari kakak TITAN (The Irreplaceable Team adn Absolute Nineteen) dari angkatan 19. Dan akhirnya terpilihlah 2 orang (laki-laki dan perempuan) untuk menjadi ketua angkatan 20. Kegiatan di hari ketiga berakhir jam 4 sore.

Esoknya, kami pun dibagi lagi sesuai Lintas Minat yang sudah kami pilih sebelumnya. Berhubung aku memilih litmin Inggris-Jepang, maka aku masuk ke X MIPA 7 yang litminnya Inggris-Jepang. Notabene murid yang memilih litmin ini pada suka Jepang. Dengan kesukaan yang sama, kami pun jadi lebih mudah untuk akrab. Wali kelas kami adalah bu Kiki. Sayangnya, kita bisa ketemu bu Kiki hanya pada hari Senin dan Sabtu. Karena hari lainnya, bu Kiki full mengajar di Kampus B.__. Ah ya, Smaridasa punya 2 kampus, kampus A dan B. Aku dapat di kampus A yang alhamdulillah-nya dekat sama rumah. Jadi, aku bisa homestay. Adapun yang rumahnya jauh, misalnya Balikpapan, Sangatta, Berau, Muara Badak, Penajam Paser Utara, Tanah Grogot, dan lain-lain bisa berasrama di kampus A.


Ini foto X MIPA 7 sama Bu Kiki di Gazebo 20 setelah praktek Fisika

Wah, ngga kerasa udah panjang aja postingannya.
Sekian dulu deh. Aku pasti ngepost lagi kok tentang masa-masa SMA. Bye!

-Suci Noorjannah Novianti-


Sabtu, 05 November 2016

Jumat, 22 Januari 2016

Lirik Lagu JKT48 - Beginner




In your position set!

Pengetahuan dan pengalaman dari
Masa lalu hanya membebani saja
Angin pun selalu pergi dan berlalu
Tanpa meninggalkan apapun di b’lakang

Ayo carilah jalan yang baru
Jangan melihat peta yang ada
Saat mata yang tertunduk mendongak
Kau ‘kan menjadi zero

Apakah kita punya impian?
Dan percaya kepada masa depan?
Tak kenal rasa takut, tak perlu pandang bulu
Tak perlu menahan diri
S’karang apakah kita punya impian?
Tetap lugu s’perti anak kecil
Rantai yang terus mengikatmu
Ayo putuskanlah
Change change change change
Change your mind
Change change your mind
Tak perlu tahu apapun juga
Beginner!

Karena pernah mengalami gagal
Malu dan terluka
Menjadi trauma
Karena tak ingin merasakan lagi
Orang dewasa pun
Jadi makin bijak

Mencoba memang hal yang tak pasti
Memangnya untuk apakah
Berhitung untuk menghindar
Dari semua resiko

Sedang hidupkah kita sekarang?
Apakah esok ingin terus hidup?
Pura-pura mengerti, dan pura-pura tahu
Tapi tak punya impian
Yeah sedang hidupkah kita sekarang?
Apakah menyia-nyiakan hidup?
Getaran dalam dadamu s’karang rasakanlah

Stand up! Together!
Ingatkah saat terlahir
Semua orang beginner!
Stand up! Right away!
Dari awal tidak akan berjalan dengan mulus
Stand up! Together!
Tak apa mengulang lagi
Once again beginner!
Stand up! Right away!
Ulang lagi, ulang lagi
Pasti akan berhasil

Robek dan buanglah halaman yang lama
Ya ayo kita mulai
We can be reborn all the time

Apakah kita punya impian
Dan percaya kepada masa depan
Tak kenal rasa takut, tak perlu pandang bulu
Tak perlu menahan diri
S’karang apakah kita punya impian
Tetap lugu s’perti anak kecil
Rantai yang terus mengikatmu 
Ayo putuskanlah

Tak bisa apapun
Tidak berhasil
Lalu kenapa?
Karena kita masih muda
 
Tak bisa apapun
Tak bisa segera
Karna itu peluang ada di pihak kita

Hujan pun reda
Angin pun reda
Dan cahaya yang baru
Akan mulai bersinar
Inilah saatnya
Kau pun telah terlahir kembali
Beginner!

Rabu, 23 Desember 2015

Cerpen JKT48 : JANJI BECHI [BEBY OCHI]

            “Aku hitung yaa! Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima.. enam.. tujuh.. delapan.. sembilan.. sepuluh! Sudah?” tanya Beby meyakinkan bahwa teman-temannya sudah bersembunyi. Yap, mereka sedang bermain petak umpet!            “Suasana sudah hening, berarti mereka sudah bersembunyi” batin Beby. Ia pun bergegas mencari teman-temannya yang sedang bersembunyi.
            “Aku tau nih tempat persembunyian Kinal!” seru Beby. Ia pun mengendap-endap kearah semak-semak.
            “Nah, bener kan. Ada Kinal disini!” ucap Beby pelan saat melihat sebagian kepala Kinal yang muncul diantara semak-semak tersebut.
            “DORR! Dapat kau!” seru Beby mengejutkan Kinal.
            “Ih, Beby! Kamu cepet banget sih nemuin aku!” kata Kinal rada kesal.
            “Wlee” ucap Beby sambil menjulurkan lidahnya “salah sendiri kamu kalau lagi main petak umpet selalu sembunyi di semak-semak. Ya jelaslah aku hapal! Haha!” sambung Beby dengan diiringi tawanya.
            “Yaudah, sekarang yuk kita cari Cindy, Ochi, sama Stella!” ujar Beby. Kinal pun menurut dengan ajakan Beby.

****
Sepuluh menit kemudian …
            “Ih, rese banget nih mereka bertiga. Selalu aja susah ditemuin!” keluh Beby.
            “Yaudah deh. Aku nyerah!” teriak Beby agar teman-temannya dapat mendengar suaranya. Tak lama muncullah Cindy, Stella, dan Ochi dari tempat persembunyiannya.
            “Kalian susah banget tau dicariin. Emang kalian sembunyi dimana sih?” tanya Beby.
            “Rahasiaaaa, hihi” seru mereka berbarengan. Ekspresi Beby pun berubah menjadi ekspresi cemberut. Ia memonyongkan bibirnya dan sedikit mengembungkan pipinya. Namun ekspresinya itu bukannya terihat menjadi ekspresi kesal, melainkan ekspresi imut. Hihi.
            “Kalian semua pasti lagi capek kan habis main petak umpet? Nih tante bawain kalian sirup. Minum gih, biar hausnya hilang” ujar Mamanya Beby yang tiba-tiba saja datang sambil membawa lengser berisikan lima gelas sirup dengan tambahan es batu didalamnya. Tentunya akan membuat tenggorokkan mereka terasa segar setelah meminumnya.
            “Makasih Ma!” kata Beby.
            “Makasih tante!” sambung yang lainnya. Mamanya Beby yang melihat itu, hanya senyum-senyum saja sambil masuk kerumah.
            “Sirup bikinan Mama kamu enak banget Beb!” komentar Kinal.
            “Ya elah. Gombal lu lebay ah Nal. Itu sirup kan tinggal di kasih air dingin teus ditambahin es batu. Semua juga bisa kali” jawab Beby.
            “Haha, tau aja kamu Beb aku lagi ngegombal” balas Kinal sambil cengengesan. Beby hanya geleng-geleng saja melihat aksi temannya yang satu itu.
            “Eh, sudah sore banget nih. Kita pulang yuk. Ntar kita dicariin lagi!” kata Cindy mengingatkan teman-temannya. Ekspresi mereka pun seketika berubah menjadi ekspresi kaget dan seolah_olah mengatakan, “Oh iya!”.
            “Kalau gitu. Kita pulang dulu ya Beby! Makasih banyak yaa” kata Stella mewakili teman-temannya.
            “Iya, sama-sama. Lain kali kita main bareng lagi ya!” seru Beby kepada Stella, Kinal, dan Cindy yang sudah berada jauh dari rumah Beby. Kini tersisa Ochi yang berada dirumah Beby.
            “Beby, aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu” ujar Ochi.
            “Ngomong apaan Chi? Kok kayanya serius banget?” tanya Beby lalu duduk disebelah Ochi.
            “Nih, aku punya kalung buat kita berdua. Liontinnya tulisan ‘BeChi’, Beby Ochi. Aku pesan kalung ini sudah lama loh, cuman aku baru sempat ngasihnya sekarang. Nggak apa-apa kan Beb?” tanya Ochi.
            “Nggak papa kok Chi. Aku suka banget sama kalungnya, makasih ya Chi” kata Beby sambil senyuum-senyum melihat kalung pemberian sahabatnya itu.
            “Sama-sama Beb. Oh iya, aku juga punya surat nih buat kamu. Eits, tapi kamu bacanya nanti ya, jangan sekarang!” kata Ochi sambil memberikan sepucuk surat berwarna biru muda dengan ikatan pita itu kepada Beby.
            “Nanti? Kapan? Emangnya kenapa?” tanya Beby bertubi-tubi.
            “Saat umur kamu sudah 20 tahun. Jangan tanya kenapa, nanti kamu bakalan tau sendiri kok” jelas Ochi.
            “Sepuluh tahun lagi dong? Yah, kok lama banget sih Chi?” keluh Beby.
            “Iya, sepuluh tahun lagi. Sudah, jangan kamu fikirin terus, nanti makin lama lho. Eh, sudah sore banget nih Beb. Aku pulang dulu yaa. Besok aku kesini lagi, kita main bareng lagi. Oke?” kata Ochi.
            “Oke! See you tomorrow Ochi!” seru Beby. Ochi pun bergegas pulang kerumahnya sebelum matahari benar-benar menenggelamkan cahayanya.

***
Esoknya …
            Jam 7.30 tepatnya. Ochi sudah berada didepan rumah Beby, ia sudah berniat untuk bermain bersama Beby. Namun ekspresi riangnya menjadi ekspresi terheran-heran. Ochi melihat Beby, Mamaya, dan Papanya sedang mengangkut-angkut beberapa koper besar. Terlebih lagi ada dua buah taxi yang sedang menunggu didepan rumah Beby, membuat Ochi makin bingung dengan semuanya. Tersadar dengan keberadaan Ochi didepan rumahnya, Beby pun segera menghampiri Ochi. Belum sempat lagi Beby berbicara, Ochi sudah mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi dipendamnya.
            “Ini ada apa Beb? Kok kamu angkat-angkat koper gitu? Terus ini juga ada dua taxi didepan rumah kamu. Ini mau ngapain Beb??” tanya Ochi bertubi-tubi.
            “Maafin aku Chi. Aku harus pindah ke Bandung” ujar Beby seraya tertunduk. Ia tak sanggup melihat reaksi sahabat karibnya itu.
            “Pindah? Ke Bandung? Kok kamu nggak bilang sama aku sih Beb?” tanya Ochi.
            “Papaku ada pekerjaan mendadak yang mengharuskan pindah ke Bandung. Aku sama Mama harus ikut. Kita di Bandung selama 10 tahun” jelas Beby.
            “Jadi kamu bakalan ninggalin aku di Jakarta Beb? Kamu jahat!!” teriak Ochi. Ia pun berlari dan berniat pulang kerumahnya. Namun dengan sigap, Beby menahan tangan Ochi.
            “Tunggu Chi! Aku nggak bakalan ninggalin kamu! Sepuluh tahun lagi aku bakalan balik ke Jakarta. Tepat saat umur aku 20 tahun. Sama kaya kamu! Bertepatan juga sama saatnya aku buka surat dari kamu! Aku janji, sepuluh tahun lagi, aku bakalan balik ke Jakarta dan aku nggak bakalan ninggalin kamu lagi.kita bisa ngumpul bareng lagi. Ya? Ingat, tepat sepuluh tahun lagi, ditanggal yang sama, di bulan yang sama, di jam yang sama. Kita ketemuan ditaman didekat persimpangan sana. Oke?” kata Beby.
            “Tapi Beb, kalau nggak ada kamu, aku bakal kesepian disini” kata Ochi.
            “Engga bakalan Chi. Ada Cindy, Kinal, sama Stella kan? Mereka bisa jadi penggantiku untuk sementara” ujar Beby.
            “Enggak Beb! Enggak! Mereka beda sama kamu. Aku pasti bakal kesepian banget! Pasti hari-hari hariku nggak seceria saat kamu masih ada. Aku mohoooon banget. Jangan tinggalin aku Beb!!” rintih Ochi. Tanpa disadarinya, butiran air bening itu pun turun dan mulai membasahi pipinya itu.
            “Ochi, kamu nggak boleh sedih gitu. Kalo kamu sedih terus, aku juga pasti bakalan ikutan sedih. Kan aku sudah janji bakalan balik ke Jakarta sepuluh tahun lagi. Oke?” ucap Beby lembut sambil mengusap air mata Ochi dengan jari-jemarinya.
            “I.. iya” jawab Ochi sesenggukkan karena habis nangis.
            “Nah, gitu dong!” seru Beby sambil tersenyum manis, manisss banget. Lollypop pake gula 10 kilo kalah :3 wkk~
            “Kalau gitu, aku pergi dulu ya Chi. Sepuluh tahun lagi kita bakalan ketemu. I will miss you, Chi” ucap Beby. Ia pun berjalan pelan kearah taxi yang sejak tadi sudah menunggunya. Antara rela, antar tidak untuk meninggalkan sahabatnya, Ochi. Taxi yang ditumpangi Beby itu pun berjalan pelan namun pasti dan menghilang dari pandangan Ochi secara perlahan.
***
            Ochi pun memulai hari-harinya tanpa Beby. Begitupun Beby yang sedang berada di Bandung, ia juga menjalani hari-harinya tanpa Ochi. Hari-hari yang mereka jalani memang berbanding terbalik seperti keadaan dimana mereka masih bersama. Tidak seceria dulu, dan tidak berwarna seperti dulu lagi. Mereka pun berusaha melewati hari-hari pahit mereka itu dengan kesabaran.
***
            Hari demi hari pun berlalu dan terasa begitu amat sangat lama sekali. Hari ini adalah tepat sepuluh tahun perpisahan Beby dan Ochi. Dan hari ini pula saatnya mereka akan kembali berjumpa di Jakarta.
            “Asik. Bentar lagi nyampe Jakarta!” seru beby didalam hati. Ia begitu riang hari ini. Ia juga sudah menyiapkan kado spesial untuk Ochi. Tak lupa juga ia sudah membawa sura pemberian Ochi sepuluh tahun lalu. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu Beby untuk membuka suart itu pun sudah tiba. Ia pun membuka surat itu diperjalanan menuju Jakarta.

Dear My Best Friend, Beby Chaesara Anadila

            Gimana kabar kamu hari ini? Baik kan? Semoga aja. Sebelumnya, maafin aku ya kalo aku nyuruh kamu buka surat dari aku harus nunggu sampai 10 tahun. Pasti sekarang umur kamu sudah 20 tahun. Harus jadi pribadi yang lebih dewasa lagi ya.
            Aku mau cerita sesuatu nih sama kamu Beb. Boleh kan? Boleh dong! Aku itu seneeeeeeng banget bisa kenal sama kamu, apalagi sekarang aku jadi sahabat kamu. Aku merasa beruntung banget punya sahabat kaya kamu. Sudah baik, cantik, nggak sombong, pengertian, nggak cepat marah, bijaksana, pinter lagi. Aku pengen banget sahabatan sama kamu seumur hidup aku. tapi aku tau, it’s very impossible. Itu nggak mungkin banget terjadi. Sebenarnya aku itu sudah mengidap penyakit Leukimia. Dan dokter bilang umur aku ngga lama lagi. Perkiraan dokter umur aku akan berakhir diumur aku yang ke 20 tahun. Semoga saat kamu baca ini, kita masih bisa bertemu yaa..
            Satu yang pengen aku kasih tau ke kamu. Aku bangga punya sahabat kaya kamu Beb. Terima kasih banyak kamu sudah menghiasi hari-hariku. Maafin kalau aku punya banyak salah sama kamu. Aku harap, kamu nggak akan pernah lupa sama aku walaupun aku sudah pergi nanti. Aku harap, kamu bisa dapat sahabat yang lebih baik lagi dari aku, yang bisa ngertiin perasaan kamu. Satu permintaan terakhirku, jaga surat ini baik-baik yaa. Jaga juga kalung BeChi kita. Cuman 2 benda itu yang menandakan persahabatan kita nggak akan pernah berhenti samapi disini. Thanks for all. I love you so much Beby

With love
From your best friend
-Neneng Roesdiana (Ochi)-

            “Ochi,” ucap Beby lirih. Bersamaan dengan itu, ia sudah sampai di Jakarta entah kenapa, taxi yang digunakan Beby berhenti tepat didepan rumah Ochi. Disana sudah ramai oleh orang-orang, dan didepan rumah Ochi ada bendera kuning.

            “APA??!! BENDERA KUNING??!!” pekik Beby. Ia pun turun dari taxi dan langsung masuk kerumah Ochi. Disana terlihat Ochi sudah terbaring dan di tutupi oleh kain berwarna putih. Wajah Ochi terlihat berseri dan terlihat tersenyum. Beby langsung diguyur airmata kesedihan melihat sahabatnya itu. Beberapa saat kemudian Beby ikut membacakan Surah Yasiin untuk sahabat kesayangannya itu. Setelah itu, Beby pun ikut mengantarkan sahabatnya itu ketempat terakhirnya. Ya, Makam. Setelah pemakaman selesai. Beby menaburkan bunga di makam sahabatnya itu sambil mengucap sebuah janji.
            “Maafin aku Chi. Aku sudah ninggalin kamu selama 10 tahun terakhir. Aku bener-bener nggak tau kalau kamu sakit. Tapi aku janji, aku bakalan jaga keutuhan persahabatan kita sampai kapan pun. Sampai akhir hayatku.. Aku janji Chi, janji!” kata Beby. Setelah itu, ia pun pergi meninggalkan makam sahabatnya dengan perasaan sedih, kecewa, kesal, semuanya bercampur-aduk. Tetapi kesedihannya berkurang setelah mengingat surat Ochi, bahwa ia harus menjaga persahabatan mereka sampai kapanpun.      Yap, sejak saat itu prinsip Beby adalah:
Persahabatan itu tak kenal waktu, tak kenal tempat,tak pandang bulu dan tak kenal alam.

            Beby akan terus bersahabat dan terus bersama dengan Ochi walaupun mereka berbeda alam. Karena persahabatan memang tak kenal segalanya. Maka dari itu sekarang Beby tidak akan pernah lagi merasa dirinya kesepian.

***
 Jaga sahabat kalian selagi mereka masih ada. Jangan pernah kecewain mereka, jangan pernah bikin mereka kesal, saling mengerti perasaan satu sama lain. Dengan begitu persahabatan kalian akan awet. Ingat juga prinsip Beby, persahabatan itu tak kenal segalanya. So, keep your best friend ya!

-Suci Noorjannah Novianti-