“Aku hitung yaa! Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima.. enam.. tujuh..
delapan.. sembilan.. sepuluh! Sudah?” tanya Beby meyakinkan bahwa
teman-temannya sudah bersembunyi. Yap, mereka sedang bermain petak
umpet! “Suasana sudah hening, berarti mereka sudah
bersembunyi” batin Beby. Ia pun bergegas mencari teman-temannya yang
sedang bersembunyi.
“Aku tau nih tempat persembunyian Kinal!” seru Beby. Ia pun mengendap-endap kearah semak-semak.
“Nah, bener kan. Ada Kinal disini!” ucap Beby pelan saat melihat
sebagian kepala Kinal yang muncul diantara semak-semak tersebut.
“DORR! Dapat kau!” seru Beby mengejutkan Kinal.
“Ih, Beby! Kamu cepet banget sih nemuin aku!” kata Kinal rada kesal.
“Wlee” ucap Beby sambil menjulurkan lidahnya “salah sendiri kamu kalau
lagi main petak umpet selalu sembunyi di semak-semak. Ya jelaslah aku
hapal! Haha!” sambung Beby dengan diiringi tawanya.
“Yaudah, sekarang yuk kita cari Cindy, Ochi, sama Stella!” ujar Beby. Kinal pun menurut dengan ajakan Beby.
****
Sepuluh menit kemudian …
“Ih, rese banget nih mereka bertiga. Selalu aja susah ditemuin!” keluh Beby.
“Yaudah deh. Aku nyerah!” teriak Beby agar teman-temannya dapat
mendengar suaranya. Tak lama muncullah Cindy, Stella, dan Ochi dari
tempat persembunyiannya.
“Kalian susah banget tau dicariin. Emang kalian sembunyi dimana sih?” tanya Beby.
“Rahasiaaaa, hihi” seru mereka berbarengan. Ekspresi Beby pun berubah
menjadi ekspresi cemberut. Ia memonyongkan bibirnya dan sedikit
mengembungkan pipinya. Namun ekspresinya itu bukannya terihat menjadi
ekspresi kesal, melainkan ekspresi imut. Hihi.
“Kalian
semua pasti lagi capek kan habis main petak umpet? Nih tante bawain
kalian sirup. Minum gih, biar hausnya hilang” ujar Mamanya Beby yang
tiba-tiba saja datang sambil membawa lengser berisikan lima gelas sirup
dengan tambahan es batu didalamnya. Tentunya akan membuat tenggorokkan
mereka terasa segar setelah meminumnya.
“Makasih Ma!” kata Beby.
“Makasih tante!” sambung yang lainnya. Mamanya Beby yang melihat itu, hanya senyum-senyum saja sambil masuk kerumah.
“Sirup bikinan Mama kamu enak banget Beb!” komentar Kinal.
“Ya elah. Gombal lu lebay ah Nal. Itu sirup kan tinggal di kasih air
dingin teus ditambahin es batu. Semua juga bisa kali” jawab Beby.
“Haha, tau aja kamu Beb aku lagi ngegombal” balas Kinal sambil
cengengesan. Beby hanya geleng-geleng saja melihat aksi temannya yang
satu itu.
“Eh, sudah sore banget nih. Kita pulang yuk.
Ntar kita dicariin lagi!” kata Cindy mengingatkan teman-temannya.
Ekspresi mereka pun seketika berubah menjadi ekspresi kaget dan
seolah_olah mengatakan, “Oh iya!”.
“Kalau gitu. Kita pulang dulu ya Beby! Makasih banyak yaa” kata Stella mewakili teman-temannya.
“Iya, sama-sama. Lain kali kita main bareng lagi ya!” seru Beby kepada
Stella, Kinal, dan Cindy yang sudah berada jauh dari rumah Beby. Kini
tersisa Ochi yang berada dirumah Beby.
“Beby, aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu” ujar Ochi.
“Ngomong apaan Chi? Kok kayanya serius banget?” tanya Beby lalu duduk disebelah Ochi.
“Nih, aku punya kalung buat kita berdua. Liontinnya tulisan ‘BeChi’,
Beby Ochi. Aku pesan kalung ini sudah lama loh, cuman aku baru sempat
ngasihnya sekarang. Nggak apa-apa kan Beb?” tanya Ochi.
“Nggak papa kok Chi. Aku suka banget sama kalungnya, makasih ya Chi”
kata Beby sambil senyuum-senyum melihat kalung pemberian sahabatnya itu.
“Sama-sama Beb. Oh iya, aku juga punya surat nih buat kamu. Eits, tapi
kamu bacanya nanti ya, jangan sekarang!” kata Ochi sambil memberikan
sepucuk surat berwarna biru muda dengan ikatan pita itu kepada Beby.
“Nanti? Kapan? Emangnya kenapa?” tanya Beby bertubi-tubi.
“Saat umur kamu sudah 20 tahun. Jangan tanya kenapa, nanti kamu bakalan tau sendiri kok” jelas Ochi.
“Sepuluh tahun lagi dong? Yah, kok lama banget sih Chi?” keluh Beby.
“Iya, sepuluh tahun lagi. Sudah, jangan kamu fikirin terus, nanti makin
lama lho. Eh, sudah sore banget nih Beb. Aku pulang dulu yaa. Besok aku
kesini lagi, kita main bareng lagi. Oke?” kata Ochi.
“Oke! See you tomorrow Ochi!” seru Beby. Ochi pun bergegas pulang
kerumahnya sebelum matahari benar-benar menenggelamkan cahayanya.
***
Esoknya …
Jam 7.30 tepatnya. Ochi sudah berada didepan rumah Beby, ia sudah
berniat untuk bermain bersama Beby. Namun ekspresi riangnya menjadi
ekspresi terheran-heran. Ochi melihat Beby, Mamaya, dan Papanya sedang
mengangkut-angkut beberapa koper besar. Terlebih lagi ada dua buah taxi
yang sedang menunggu didepan rumah Beby, membuat Ochi makin bingung
dengan semuanya. Tersadar dengan keberadaan Ochi didepan rumahnya, Beby
pun segera menghampiri Ochi. Belum sempat lagi Beby berbicara, Ochi
sudah mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi dipendamnya.
“Ini ada apa Beb? Kok kamu angkat-angkat koper gitu? Terus ini juga ada
dua taxi didepan rumah kamu. Ini mau ngapain Beb??” tanya Ochi
bertubi-tubi.
“Maafin aku Chi. Aku harus pindah ke
Bandung” ujar Beby seraya tertunduk. Ia tak sanggup melihat reaksi
sahabat karibnya itu.
“Pindah? Ke Bandung? Kok kamu nggak bilang sama aku sih Beb?” tanya Ochi.
“Papaku ada pekerjaan mendadak yang mengharuskan pindah ke Bandung. Aku
sama Mama harus ikut. Kita di Bandung selama 10 tahun” jelas Beby.
“Jadi kamu bakalan ninggalin aku di Jakarta Beb? Kamu jahat!!” teriak
Ochi. Ia pun berlari dan berniat pulang kerumahnya. Namun dengan sigap,
Beby menahan tangan Ochi.
“Tunggu Chi! Aku nggak
bakalan ninggalin kamu! Sepuluh tahun lagi aku bakalan balik ke Jakarta.
Tepat saat umur aku 20 tahun. Sama kaya kamu! Bertepatan juga sama
saatnya aku buka surat dari kamu! Aku janji, sepuluh tahun lagi, aku
bakalan balik ke Jakarta dan aku nggak bakalan ninggalin kamu lagi.kita
bisa ngumpul bareng lagi. Ya? Ingat, tepat sepuluh tahun lagi, ditanggal
yang sama, di bulan yang sama, di jam yang sama. Kita ketemuan ditaman
didekat persimpangan sana. Oke?” kata Beby.
“Tapi Beb, kalau nggak ada kamu, aku bakal kesepian disini” kata Ochi.
“Engga bakalan Chi. Ada Cindy, Kinal, sama Stella kan? Mereka bisa jadi penggantiku untuk sementara” ujar Beby.
“Enggak Beb! Enggak! Mereka beda sama kamu. Aku pasti bakal kesepian
banget! Pasti hari-hari hariku nggak seceria saat kamu masih ada. Aku
mohoooon banget. Jangan tinggalin aku Beb!!” rintih Ochi. Tanpa
disadarinya, butiran air bening itu pun turun dan mulai membasahi
pipinya itu.
“Ochi, kamu nggak boleh sedih gitu. Kalo
kamu sedih terus, aku juga pasti bakalan ikutan sedih. Kan aku sudah
janji bakalan balik ke Jakarta sepuluh tahun lagi. Oke?” ucap Beby
lembut sambil mengusap air mata Ochi dengan jari-jemarinya.
“I.. iya” jawab Ochi sesenggukkan karena habis nangis.
“Nah, gitu dong!” seru Beby sambil tersenyum manis, manisss banget. Lollypop pake gula 10 kilo kalah :3 wkk~
“Kalau gitu, aku pergi dulu ya Chi. Sepuluh tahun lagi kita bakalan
ketemu. I will miss you, Chi” ucap Beby. Ia pun berjalan pelan kearah
taxi yang sejak tadi sudah menunggunya. Antara rela, antar tidak untuk
meninggalkan sahabatnya, Ochi. Taxi yang ditumpangi Beby itu pun
berjalan pelan namun pasti dan menghilang dari pandangan Ochi secara
perlahan.
***
Ochi pun memulai hari-harinya
tanpa Beby. Begitupun Beby yang sedang berada di Bandung, ia juga
menjalani hari-harinya tanpa Ochi. Hari-hari yang mereka jalani memang
berbanding terbalik seperti keadaan dimana mereka masih bersama. Tidak
seceria dulu, dan tidak berwarna seperti dulu lagi. Mereka pun berusaha
melewati hari-hari pahit mereka itu dengan kesabaran.
***
Hari demi hari pun berlalu dan terasa begitu amat sangat lama sekali.
Hari ini adalah tepat sepuluh tahun perpisahan Beby dan Ochi. Dan hari
ini pula saatnya mereka akan kembali berjumpa di Jakarta.
“Asik. Bentar lagi nyampe Jakarta!” seru beby didalam hati. Ia begitu
riang hari ini. Ia juga sudah menyiapkan kado spesial untuk Ochi. Tak
lupa juga ia sudah membawa sura pemberian Ochi sepuluh tahun lalu.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu Beby untuk membuka suart itu pun
sudah tiba. Ia pun membuka surat itu diperjalanan menuju Jakarta.
Dear My Best Friend, Beby Chaesara Anadila
Gimana kabar kamu hari ini? Baik kan? Semoga aja. Sebelumnya, maafin
aku ya kalo aku nyuruh kamu buka surat dari aku harus nunggu sampai 10
tahun. Pasti sekarang umur kamu sudah 20 tahun. Harus jadi pribadi yang
lebih dewasa lagi ya.
Aku mau cerita sesuatu
nih sama kamu Beb. Boleh kan? Boleh dong! Aku itu seneeeeeeng banget
bisa kenal sama kamu, apalagi sekarang aku jadi sahabat kamu. Aku merasa
beruntung banget punya sahabat kaya kamu. Sudah baik, cantik, nggak
sombong, pengertian, nggak cepat marah, bijaksana, pinter lagi. Aku
pengen banget sahabatan sama kamu seumur hidup aku. tapi aku tau, it’s
very impossible. Itu nggak mungkin banget terjadi. Sebenarnya aku itu
sudah mengidap penyakit Leukimia. Dan dokter bilang umur aku ngga lama
lagi. Perkiraan dokter umur aku akan berakhir diumur aku yang ke 20
tahun. Semoga saat kamu baca ini, kita masih bisa bertemu yaa..
Satu yang pengen aku kasih tau ke kamu. Aku bangga punya sahabat kaya
kamu Beb. Terima kasih banyak kamu sudah menghiasi hari-hariku. Maafin
kalau aku punya banyak salah sama kamu. Aku harap, kamu nggak akan
pernah lupa sama aku walaupun aku sudah pergi nanti. Aku harap, kamu
bisa dapat sahabat yang lebih baik lagi dari aku, yang bisa ngertiin
perasaan kamu. Satu permintaan terakhirku, jaga surat ini baik-baik yaa.
Jaga juga kalung BeChi kita. Cuman 2 benda itu yang menandakan
persahabatan kita nggak akan pernah berhenti samapi disini. Thanks for
all. I love you so much Beby
With love
From your best friend
-Neneng Roesdiana (Ochi)-
“Ochi,” ucap Beby lirih. Bersamaan dengan itu, ia sudah sampai di
Jakarta entah kenapa, taxi yang digunakan Beby berhenti tepat didepan
rumah Ochi. Disana sudah ramai oleh orang-orang, dan didepan rumah Ochi
ada bendera kuning.
“APA??!! BENDERA
KUNING??!!” pekik Beby. Ia pun turun dari taxi dan langsung masuk
kerumah Ochi. Disana terlihat Ochi sudah terbaring dan di tutupi oleh
kain berwarna putih. Wajah Ochi terlihat berseri dan terlihat tersenyum.
Beby langsung diguyur airmata kesedihan melihat sahabatnya itu.
Beberapa saat kemudian Beby ikut membacakan Surah Yasiin untuk sahabat
kesayangannya itu. Setelah itu, Beby pun ikut mengantarkan sahabatnya
itu ketempat terakhirnya. Ya, Makam. Setelah pemakaman selesai. Beby
menaburkan bunga di makam sahabatnya itu sambil mengucap sebuah janji.
“Maafin aku Chi. Aku sudah ninggalin kamu selama 10 tahun terakhir. Aku
bener-bener nggak tau kalau kamu sakit. Tapi aku janji, aku bakalan
jaga keutuhan persahabatan kita sampai kapan pun. Sampai akhir hayatku..
Aku janji Chi, janji!” kata Beby. Setelah itu, ia pun pergi
meninggalkan makam sahabatnya dengan perasaan sedih, kecewa, kesal,
semuanya bercampur-aduk. Tetapi kesedihannya berkurang setelah mengingat
surat Ochi, bahwa ia harus menjaga persahabatan mereka sampai kapanpun.
Yap, sejak saat itu prinsip Beby adalah:
Persahabatan itu tak kenal waktu, tak kenal tempat,tak pandang bulu dan tak kenal alam.
Beby akan terus bersahabat dan terus bersama dengan Ochi walaupun
mereka berbeda alam. Karena persahabatan memang tak kenal segalanya.
Maka dari itu sekarang Beby tidak akan pernah lagi merasa dirinya
kesepian.
***
Jaga sahabat kalian
selagi mereka masih ada. Jangan pernah kecewain mereka, jangan pernah
bikin mereka kesal, saling mengerti perasaan satu sama lain. Dengan
begitu persahabatan kalian akan awet. Ingat juga prinsip Beby,
persahabatan itu tak kenal segalanya. So, keep your best friend ya!
-Suci Noorjannah Novianti-